Cintaku Bersambung di Rerumputan


Di sini, di tempat ini hatiku dibom sekutu cinta. Aku tak bisa percaya ini semua, setelah sekian lama hidup dengan setengah hati. Kini aku merasakan punya pendamping, bahkan bisa dibilang dia buta karena telah memiliku. Lelaki bermutu sepertiku, bukan bermutu yang berkualitas tapi bermuka tua. Padahal umurku baru 22 tahun. Selama 22 tahun pula aku betah menjomblo. Bukan betah sih memang tak ada yang berminat jadi pacarku. Dan aku juga bukan pejuang cinta, yang rela menanggalkan harga diri demi mendapatkan wanita. Aku begitu pemalu, melirik wanitapun aku tak berani apalagi mengutarakan isi hati. Sampai di tempat ini Tuhan mengubah takdirku. Dan taman ini adalah saksi kunci keadilan Tuhan.
Seorang wanita berparas cantik duduk di sampingku saat aku tengah asyik membaca buku dengan kaca mata setebal pantat coca-cola. Dia menawariku roti yang dibawanya lalu mengajakku berkenalan.
“Febi” gadis jelita itu mengulurkan tangannya yang diselipi senyum termanis yang pernah ku lihat. Aku ragu untuk membalasnya tapi kuulurkan juga tanganku. “Alam”
Wajah Febi terlihat semakin berseri-seri “ Alam, how interesting your name.” Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Baru kali ini ada orang yang memuji namaku, perempuan cantik pula. Sejak kanak aku sudah terbiasa dengan ejekan teman-teman sebaya yang memanggilku alam baka. Pertamanya sedih juga, tapi kalau difikir ulang, namaku oke juga setidaknya tidak diobral, alias tidak semua orang menyandang namaku.
“ Kamu penggila buku ya ?” badannya sedikit condong ke arahku, bahkan aku bisa menghirup parfum mawarnya. Sedikit terlena, aku hampir jatuh dari lamunan semu.
“ Oh-eh-em, ti..tidak juga kok, untuk mengisi waktu luang saja.” Terlalu pengecut, itulah diriku yang sebenarnya. Pori-pori kulitku mulai mengucurkan keringat sebiji jangung. Aku sungguh gugup. Jantungku berpacu dengan desiran api cinta yang mulai menggelora. Sungguh aku langsung jatuh hati padanya. Aku memang tak tahu diri, tapi ini baru pertama kali aku merasakan desiran hasrat yang lebih besar dari apapun. Ini rahasia antara aku dan Tuhan aku tak berniat mengungkapkanya. Bukan karena takut patah hati, tapi ini masih terlalu dini juga.
“Aku sangat suka membaca, semua yang ada hurufnya pasti aku baca. Tapi sayang aku tak punya cukup uang untuk membelinya. Jadi aku lebih sering meminjam ke teman atau perpustakaan umum.” Tuturnya kala itu bagaikan untaian lagu yang indah mengalun syahdu dalam telingaku. Saking terbuainya sampai aku harus dibangunkan oleh sentuhan jemarinya yang menyentuh lenganku yang basah karena peluh.
“Alam- Alam- Alam, kamu dengar gak?”
Degup jantungku semakin kalap. “Ah-eh-em, iya aku dengar kok. Aduh Febi maaf aku harus pergi. Sudah pukul empat sore, aku ada jadwal mengajar di LBB hari ini.” Aku harus berpura-pura ada keperluan untuk mengubur kegugupanku jika di dekatnya. Gadis itu hanya mengulurkan senyuman. Baru setengah langkah teriakannya menghentikanku dan membuatku menoleh ke arahnya.
“Hei Alam besok kamu ke sini lagikan? Aku selalu di sini setiap hari. Lain kali kamu harus habiskan waktu sampai matahari meninggalkan bumi ya!!”
Aku menjawabnya dengan senyuman yang terkesan tidak ikhlas, entah dia menyadarinya atau tidak kemudian aku membalas lambaian tangannya. Langkahku semakin kuperlebar agar jarak antara aku dan dia semakin menjauh. Tapi rasa yang muncul kala bersamanya tak jua menghilang meski aku sudah terlelap dalam mimpi sekalipun.
Hari pertama setelah hari kemarin. Aku bangun dengan perasaan yang berbunga. Secercah cahaya optimis mulai tumbuh dalam hatiku. Sebelum mandi aku sempatkan diri untuk berlama-lama menghadap cermin. Kalau dipikir aku ini tidak juga termasuk produk gagal, hidungku mancung, tinggiku proporsional, badanku juga pas-pas saja, tidak kurus kering juga tidak terlalu berisi, kulit juga tak terlalu matang apalagi gosong. Aku hanya krisis percaya diri, sehingga apa yang ada dalam diriku terasa kurang terus jika dibanding dengan orang lain. Gadis itu, magubah stigmaku selama dua puluh dua tahun ini. Dengan rambut yang acak-acakan karena baru bangun aku coba pandangi lamat-lamat wajahku. Tanpa kaca mata, bayanganku dalam cermin sangat berbeda dengan aku yang biasa. Gadis itu, lagi-lagi dia memberi suntikan optimisme dengan dosis yang besar. Tapi sebelum overdosis karena kecamuk batin aku langsung meluncur ke kamar mandi.
Aku adalah sarjana muda, hari-hariku masih disibukkan oleh pekerjaan yang tidak tetap. Berpindah-pindah tempat kerja. Seminggu di perusaan A, dua hari kemudian masuk kantor B, tiga hari di kantor B, masih mengadu peruntungan di perusaan C. Kadang lari di satu titik tapi tak juga menemukan titik yang baru. Itulah rutinitasku selama setahun terakhir. Saat ini aku bekerja di tiga tempat sekaligus, bukan uang yang aku prioritaskan. Tapi aku hanya ingin menyibukkan diri hingga aku bisa melupakan cinta dan wanita. Sampai akhirnya aku dipertemukan dengan gadis itu. Di pagi buta aku dipaksa untuk berangkat. Masih dengan dandanan seperti biasa, tapi dengan energi yang dipancarkannya sedikit memberi cahaya baru untuk menyinari langkahku. Di dalam kereta penuh dengan pekerja dan pedagang yang berdesak mencari cela untuk berjalan dalam gerbong. Aku selalu membawa bekal yang cukup untuk hariku, selain makanan aku juga butuh baju ganti. Karena hari ini hari kamis, maka aku baru kembali ke kotaku sekitar pukul sebelas malam. Tapi baru kali ini semangatku untuk bekerja meluntur sudah. Aku ingin cepat-cepat meluncur ke taman dan menemui gadis itu, dan mengungkapkan bahwa aku sangat menantikan pertemuan-pertemuan berikutnya dengan gadis itu.
Pukul dua siang. Aku beranjak dari satu pekerjaan menuju pekerjaan berikutnya. Bukannya menaiki angkot yang mengantarkanku ke tempat kerja, aku malah naik angkot yang melewati taman itu. Baru satu jengkal kaki menginjak taman itu. Degupan jantungku kembali berpacu. Aku mencari sosoknya di antara deteran bangku-bangku taman. Mataku menyapu setiap sudut taman. Tapi gadis itu tak kujumpai meski hanya bayangannya. Hanya ada segelintir muda-mudi yang asyik berpadu kasih, ada segerombolan siswa SMA yang mengerjakan tugas. Perasaan kecewa langsung menghujam hatiku. Aku tertunduk lemas di salah satu bangku di bawah pohon yang rindang di depan taman bunga mawar yang indah. Tempatku duduk kemarin. Hari demi hari berganti dengan cepat. Lambat laun sobekan tanggal di kalender semakin menipis. Ya, sekarang awal Desember. Selama tujuh bulan semenjak pertemuan pertamaku dengannya, dia tak pernah kembali lagi. Namun selama tujuh bulan ini bahkan sampai detik ini aku selalu menunggunya di taman yang sama. Hari sudah semakin petang, aku masih setia menatap langit barat yang makin lama semakin menjingga. Andai indahnya langit itu bisa dirasakan oleh hatiku juga alangkah indahnya. Sia-sia aku mengubur waktu dalam setahun ini untuk memikirkannya. Kurang dari tiga puluh hari lagi tahun akan berganti. Di saat itu, aku ingin menutup rajutan asa yang dia bangun dulu. Tapi apa, bagai dipermainkan, hatiku kau balik-balik. Dia menatapku dengan senyum merekah dalam bingkai wajah pucatnya. Dengan bantuan roda-roda dia mendekat kepadaku. Febiku yang dulu, gadis yang sama itu kembali di penghujung tahun. Tak sepatah katapun terucap dari bibirnya, dia terus mengulum senyum sampai kursi roda itu berhenti di hadapanku. Aku tak mampu berkata apapun, Tuhan ini tak seperti yang kuharapkan.
   “Hai Alam, maaf aku hampir tidak mengenalimu. Penampilanmu jauh berbeda, kamu ganteng.”
Aku tak sanggup mendengar gadis yang kucinta berkata-kata. Akupun tak sanggup untuk tidak memendam rindu padanya. Di hari itu, di bulan Desember pada penghujung tahun. Dia menagih hutangku, janji untuk mengantar tenggelamnya matahari bersamanya. Dan juga mengantar dia keperistirahatan terakhirnya. Ya, gadisku, yang sejak tujuh bulan lalu kucintai bahkan sampai kapanpun, menghembuskan nafas terakhirnya di pundakku. Kami hanya menatap matahari yang semakin lama menghilang di balik gumpalan awan-awan yang menjingga.
Dari catatan-catatannya aku tahu bahwa gadisku mencintaiku, meski saat itu aku merasa tak pantas dicintai siapapun selain orang tuaku sendiri. Akupun akhirnya tahu selama tujuh bulan itu gadisku selalu pergi ke taman. Meski raganya terbaring di ranjang rumah sakit. Namun ibunya dengan suka rela menjadi pengganti matanya. Rekaman-rekaman video matahari di akhir hari bahkan ketika hari hujan sekalipun menjadi bukti. Febi, terima kasih, meski raga kita hanya berjumpa saat pertama dan terakhir sebelum kau pergi meninggalkan dunia, namun kau mencintaiku sampai maut harus menjemputmu. Cintaku padanya tak akan berakhir meski maut telah menjemputku juga. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gelapnya Transparansi Nilai